Blog ini merupakan sarana bagi warga umat Stasi St. Kristoforus Matani Paroki St. Yoseph Pembantu Penfui Keuskupan Agung Kupang untuk membangun relasi secara internal maupun secara eksternal dengan sesama umat Katolik di mana pun berada. Dengan blog ini diharapkan warga umat Katolik dapat saling meneguhkan dan saling berbagi rasa antara satu dengan yang lain dalam terang iman Kristiani.
Mengenal Lebih Dekat Siapa Santo Kristoforus
Sebagai warga Katolik pada umumnya dan khususnya umat Katolik di Stasi St. Kristoforus Matani Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui Keuskupan Agung Kupang, kita perlu tahu siapa sesungguhnya Santo Kristoforus. Berikut ini paparan singkat riwayat Santo Kristoforus yang kami kutip dari: “Straight Answers: St. Christopher the 'Christ Bearer'” by Fr. William P.
Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2005 Arlington Catholic
Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com. Artikel tersebut kemudian diterjemahkan oleh YESAYA dalam www.indocell.net/yesaya atas ijin The
Arlington Catholic Herald. Berikut ini kutipannya.

KRISTOFORUS adalah seorang santo, yang wafat di Lycia di
pantai selatan Asia Kecil sekitar tahun 251. Ada beragam legenda seputar
hidupnya. Legenda yang paling populer adalah yang mengisahkan ia sebagai seorang yang agak buruk rupa,
bertubuh raksasa, dan putera seorang raja kafir yang menikah dengan seorang
perempuan Kristen yang berdoa kepada Bunda Maria memohon anugerah seorang anak.
Semula Kristoforus bernama “Offerus”, yang saban hari bekerja membopong orang-orang menyeberangi sungai sebagai
mata pencahariannya. Sumber lain juga menyebutkan bahwa ia bernama “Reprobus”
sebelum dibaptis, dan kemudian mengganti namanya menjadi Kristoforus.
Legenda tersebut mengisahkan bahwa suatu hari salah seorang kanak-kanak kecil yang minta diseberangkan
sungai. Sementara Kristoforus memanggulnya,
kanak-kanak itu semakin bertambah berat, hingga Kristoforus takut kalau-kalau
mereka akan tenggelam. Kanak-kanak itu kemudian memaklumkan diri sebagai Yesus;
beratnya beban diakibatkan beban dunia yang Ia panggul di atas pundak-Nya.
Menurut Martirologi Romawi, Kristoforus menerima mahkota kemartiran pada
masa penganiayaan oleh Kaisar Decius dengan anak-anak panah dibidikkan ke
tubuhnya yang sebelumnya lolos dari aniaya api.
Nama Kristoforus berarti “Pembawa Kristus”. Ia adalah santo pelindung
mereka yang bepergian, teristimewa mereka yang mengendarai mobil.
Popularitasnya semakin meningkat pada Abad Pertengahan. Namun demikian, bukti
menegaskan adanya devosi yang tersebar luas bahkan sebelum masa ini. St
Remigius dari Rheims dimakamkan pada tahun 532 dalam sebuah gereja yang
dipersembahkan kepada St Kristoforus; Paus St Gregorius Agung (wafat tahun 604)
menyebutkan dalam surat-suratnya adanya sebuah biara yang dipersembahkan kepada
St Kristoforus; dan Brevir Mozarabic dan Missale St Isidore dari Seville (wafat
tahun 636) memiliki sebuah ofisi khusus yang dipersembahkan kepadanya.
St. Kristoforus teristimewa dihormati di Jerman Selatan, Austria dan Italia
Utara (yang adalah bagian dari Kekaisaran Austria hingga sesudah Perang Dunia
I) sebab ia termasuk seorang dari “Empatbelas Penolong Kudus,” yakni sekelompok
santa dan santo yang dimohon bantuan doanya sejak abad keduabelas di
wilayah-wilayah tersebut dan yang dihormati pada tanggal 8 Agustus.
Keempatbelas Penolong Kudus itu adalah: St Dionisius dari Paris (sakit kepala
dan rabies), St Erasmus atau Elmo (sakit perut dan kram), St Blasius
(penyakit-penyakit tenggorokan), St Barbara (kilat, api, ledakan, kematian yang
tiba-tiba dan tanpa persiapan), St Margareta (godaan nafsu dan kehamilan), St
Katarina dari Alexandria (filsuf dan murid, serta tukang roda), St Georgius
(para prajurit), St Achatius dan St Eustace (pemburu), St Pantaleon
(tuberculosis), St Giles (epilepsi, sakit jiwa, dan kemandulan), St Cyriac
(kerasukan setan), St Vitus (epilepsi), dan St Kristoforus (mereka yang
bepergian). Kaum Dominikan Jerman menganjurkan penghormatan ini, teristimewa di
Gereja St Blasius di Regensburg (± 1320).
Di samping itu, medali St Kristoforus dan patung serta medali mobil St
Kristoforus masih dibuat dan digunakan oleh umat beriman hingga sekarang. Pesta
St Kristoforus masih tetap dirayakan pada tanggal 25 Juli, dan teks Misa demi
menghormati St Kristoforus dapat ditemukan dalam Misalle Romawi edisi 1962 yang
masih berlaku untuk Misa Tridentine.
Kebingungan atau keraguan
mengenai apakah St Kristoforus masih seorang santo, muncul ketika Paus Paulus
VI merevisi Kalender Liturgi di mana dicantumkan pesta-pesta para kudus yang
dirayakan dalam Misa. Mempertimbangkan semakin bertambah banyaknya
perayaan-perayaan dari abad ke abad, Konsili Vatican Kedua dalam “Konstitusi
Liturgi Suci” menganjurkan, “Agar pesta para kudus jangan diutamakan terhadap
hari-hari raya yang nmerupakan kenangan misteri-misteri keselamatan sendiri,
hendaknya banyak di antaranya diserahkan perayaannya kepada masing-masing
Gereja khusus atau bangsa atau tarekat religius. Hendaknya yang dirayakan oleh
seluruh Gereja hanyalah pesta-pesta yang mengenangkan para kudus yang
sungguh-sungguh penting bagi Gereja semesta” (No. 111).
Berdasarkan pemikiran
ini, suatu komisi khusus - Consilium - kemudian memeriksa kalender dan menghapus
nama-nama para kudus yang dasar historisnya lebih berdasar pada tradisi
daripada berdasar sejarah yang dapat dibuktikan, mengganti pesta-pesta tersebut
dengan peringatan kematian atau kemartiran seorang kudus apabila mungkin, dan
menambahkan peringatan para kudus yang dikanonisasi belakangan ini dan mendatangkan
pengaruh pada Gereja universal.
Di samping itu, konferensi waligereja dapat
menambahkan ke dalam kalender universal, para kudus yang dipandang penting bagi
umat beriman di negara mereka sendiri. Tidaklah mungkin Gereja “membatalkan
kanonisasi” St Kristoforus atau siapapun juga, meski kurangnya bukti historis
seputar hidup mereka. St Kristoforus masih tetap pantas mendapatkan devosi kita
dan kita mohon bantuan doanya; masing-masing kita hendaknya mencamkan bahwa ia
juga disebut sebagai “Pembawa Kristus”.+++
Tidak ada komentar:
Posting Komentar